Adian : Prabowo Pengurus kuda yang baik adalah Pujian

Kabari teman andaEmailGoogle+0Facebook0Twitter0LinkedIn0Pinterest0

adian napitupuluJakarta-GD| Caleg DPR terpilih dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Adian Napitupulu membuat heboh publik lewat pernyataannya tentang Prabowo Subianto di acara Mata Najwa, Rabu pekan lalu. Aktivis mahasiswa 1998 ini menyebut capres nomor urut satu itu hanya memiliki dua sisi positif: pengurus kuda yang baik dan pemberi harapan kepada banyak perempuan yang ingin menjadi ibu negara.

Kepada wartawan, pendukung Jokowi-JK ini mengatakan tidak tahu persis mengapa pernyataannya itu bisa membuat heboh publik, khususnya di media sosial.

“Ya gua bingung, kenapa bisa begitu,” ungkap Adian saat ditemui wartawan di Posko Perjuangan Rakyat Jokowi-JK, Menteng, Jakarta Pusat kemarin.

Namun yang jelas, kata pria batak ini, followers-nya di Twitter kini bertambah menjadi 17 ribu lebih setelah pernyataan itu di televisi.

“Sebelum Mata Najwa 4.300, sekarang sudah 17.400. Jadi ketambahan 13.000 lebih. Banyak followers, banyak yang mendukung dan banyak yang mencaci maki juga,” ujar dia.

Berikut wawancara penjelasan Adian Napitupulu perihal pernyataan tersebut seperti dikutip oleh merdeka.com :

Apakah pernyataan Anda soal ‘kuda’ dan ‘memberi harapan kepada perempuan’ itu dipersiapkan sebelumnya?

Tidak ada persiapan. Kan tidak diatur itu. Cuma pertama memang, ketika ditanya tentang Prabowo dan keberhasilannya, yang ada dalam kepala gua saat itu dia punya banyak kuda, dengan banyak biaya yang dianggarkan untuk kuda dan beberapa kudanya katanya sempat dipakai untuk pertandingan-pertandingan internasional. Jadi kalau tanya apa yang lo liat tentang Prabowo , ya kuda. Itu aja.

Nah kemudian, ketika didesak lagi, apalagi selain itu. Yang berikutnya yang keluar dari pernyataan gua kan dia memberikan kesempatan kepada banyak wanita untuk jadi ibu negara kan. Itu kan tidak salah, ya gua sampaikan begitu saja karena yang ada di kepala gua itu. Artinya tidak bertendensi untuk menyindir, tidak bertendensi yang lain-lain. Apa yang ada di kepala saya, itu yang saya sampaikan.

Bagi gua kan sebenarnya modal perdebatan, yang paling penting di luar pengetahuan, data dan sebagainya, kan kejujuran dalam melihat persoalan. Mungkin kalau dibanding dengan Fadli Zon (Wakil Ketua Umum Partai Gerindra), gelar dia lebih banyak dari gelar gua, buku dia lebih banyak dari buku gua, mungkin data dia lebih banyak dari data gua, tapi masalahnya mungkin, dalam melihat persoalan mungkin gua lebih jujur dibandingkan dia. Itu yang dia tidak miliki, kejujuran dan objektivitas.

Apa tidak takut kepada Prabowo sudah berbicara seperti itu?

Takut kan kalau kita salah, nah gua kan tidak merasa salah. Kan gua bener, mau nape? Itu fakta kan. Dia memang jago ngurus kuda, ya harus kita akui dong. Harusnya Prabowo menempatkan itu pujian buat dia, jangan tersinggung. Ya bahwa dia memberi banyak kesempatan kepada banyak perempuan untuk berhadap pada dia, ya bener. Jupe aja minta dikawinin sama dia. Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu kan? Salahnya di mana? Gua merasa takut kalau gua salah, gua fitnah.

Sekarang ini banyak orang memfitnah Jokowi Kristen, Jokowi China. Nah, mereka yang fitnah aja ga takut, masa gua yang bener takut. Kan harus ada perbandingan, Bos.

Popularitas di media (sosial) ini apakah menjadi modal sosial bagi Anda sebelum masuk Senayan?

Gua sudah terpilih dan menunggu pelantikan ketika Tuhan memberkati ya. Kalau sewaktu masa pencalegan ini mungkin modal sosial, kalau sekarang mungkin tidak. Gua kaget juga, kenapa kayak gitu responsnya ya. Gua justru tertarik kenapa responsnya sebegitu hebohnya. Gua anggap itu sesuatu yang biasa, gaya bicara gua begitu, pada siapa saja. Kemarin gua bicara sama Jokowi aja, Jokowi sampai ngucek-ngucek rambut. Ya mungkin karena gaya bicara gua begitu. Gaya bicara gua, ya gua blak-blakan.

Anda bicara soal apa sampai Jokowi ngucek-ngucek rambut?

Ya banyaklah, ada beberapa hal yang kita perbincangkan waktu itu. ‘Kasih saya berpikir’ (mengutip gaya Jokowi sambil memeragakan kucek-kucek rambut). Bagi gua dan temen-temen yang kenal gua, itu gaya gua, bukan sesuatu yang gua buat-buat. Emang begitu.

Anda tahu penyebabnya kenapa Anda bisa populer di media sosial?

Ya gua bingung, kenapa bisa begitu. Ada komentar di Facebook sampai 2.000. Ya mungkin saja, jawaban gua orang butuh pernyataan yang tidak mutar-mutar. Orang ini capek dengan retorika politik. Orang mau ya yang langsung saja gitu. Kita sudah susah hidup, sudah susah makan, sudah susah pekerjaan, kita sudah banyak persoalan. Di sisi lain ada pilpres yang kemudian digaungkan oleh media, menyerang setiap isi kepala orang. Di buka televisi pilpres, dibaca koran pilpres dan sebagainya, tiba-tiba di situ ada kejenuhan rakyat ada politisi-politisi yang pintar beretorika, tapi tidak pernah mewakili apa yang ada dalam kepala rakyat. Mungkin pernyataan-pernyataan gua mewakili apa yang ada di kepala mereka, itu saja.

Di DPR nanti, apakah Anda mau mempertahankan gaya komunikasi seperti ini? Bagaimana jika partai melarang?

Ga ada masalah. Kemarin Mas Tjahjo (Kumolo, Sekjen DPP PDIP) BBM gua, dia bilang pertahankan gayamu sangat alami, tidak dibuat-buat. Kemudian, Bang Ara (Maruarar Sirait, Ketua DPP PDIP) menyarankan belajar pakai kemejalah. Kemudian Mas Baskara (Ahmad Basarah, Wasekjen DPP PDIP) menyarankan rambutnya dirapikan. Jadi mereka cuma menyarankan tentang sesuatu yang sifatnya penampilan, baju, rambut, tidak intervensi pada bagaimana gua bicara, cara gua berpikir, data gua.

Gua merasa enjoy di depan, karena tidak dituntut berlebihan oleh DPP. Ya memang itu style gua, ya begitulah. Kenapa Jokowi jadi fenomenal, karena dia jujur. Dan gua pikir, sepertinya itu yang dibutuhkan rakyat. Dia berpakaian seperti itu, dan gua berpakaian seperti itu.
**LS/Mer.

Tags: