Ahok Didesak Copot Kepsek SMAN 3 Jakarta

Kabari teman andaEmailGoogle+0Facebook0Twitter0LinkedIn0Pinterest0

sma 3 jakartaJakarta-GD| Hampir setiap tahun wajah pendidikan Indonesia tercoreng dengan adanya pelajar yang menjadi korban aksi kekerasan. Kasus teranyar adalah tewasnya Arfiand Caesar Al Irhami (16), siswa SMA Negeri 3 Jakarta.

Arfiand diduga meninggal dianiaya, saat mengikuti pelantikan anggota Sabhawana, klub pencinta alam SMAN 3 Jakarta, di Gunung Tangkuban Parahu, Jawa Barat, pada 12 Juni lalu.

Terkait hal itu, Kepala Dinas DKI Jakarta, Lasro Marbun, enggan berkomentar banyak tentang desakan pencopotan Kepala SMAN 3 Jakarta. Ditegaskannya, kasus tersebut masih dalam penyelidikan petugas.

“Masih proses pencarian fakta dan data. Nanti setelah lebih jelas,” katanya kepada wartawan, Senin (30/6).

Ditegaskan Lasro, pihaknya telah memberikan sanksi terhadap dua guru yang bertanggung jawab atas kegiatan yang digelar SMA 3 Jakarta. Namun, sambungnya, sanksi yang diberikannya tersebut belum final mengingat pihaknya hingga saat ini masih mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak.

“Kita memberikan sanksi harus jelas, tidak bisa ujug-ujug,” paparnya.

Pengumpulan data, tambah Lasro, supaya sanksi yang diberikan juga bisa bersifat komprehensif. Oleh karena itu, pihaknya tidak bisa menerima data sekilas saja. Agar sanksi yang diberikan tidak salah, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

Dirinya pun berjanji, keputusan sanksi yang sudah final akan umumkan pada awal bulan Juli ini. “Bersama Kepsek kita juga meminta kegiatan serupa supaya jangan dilakukan lagi,” jelasnya.

Sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk mengawasi sistem pendidikan di Jakarta, ujar Lasro, pihaknya juga sudah meminta maaf kepada orang tua korban dengan mengunjungi rumahnya. Selain itu, dirinya juga sudah meminta maaf kepada pemerhati pendidikan karena ada korban jiwa dalam kasus kekerasan di SMA 3 Jakarta.

Untuk mengantipasi aksi kekerasan agar tidak terulang, dirinya menyatakan akan membuat sebuah konsep. “Besok saya intruksikan satu konsep yang saya buat sendiri. Konsep itu untuk mengantisipasi kekerasan supaya tidak terjadi lagi,” ujarnya. Lasro pun meminta pihak sekolah agar tidak mudah mengajak pihak lain untuk terlibat dalam suatu kegiatan. Karena jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tetap saja yang bertanggung jawab adalah pihak sekolah. “Kalau tidak bisa membuat kegiatan yang ramai lakukan saja apa adanya,” ucapnya.

Sementara itu, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyari, mengatakan, mestinya sanksi yang diberikan bukan hanya membebastugaskan dua guru pembimbing ekstrakurikuler pencinta alam di SMA Negeri 3 Jakarta. Namun, kepseknya juga mesti dicopot karena menjadi pihak paling bertanggung jawab atas insiden tersebut.

“Kepala sekolah harusnya dicopot, bukan hanya dua guru yang diberi sanksi. Kendati demikian, langkah Dinas Pendidikan Jakarta memberi sanksi dua guru itu sudah benar, patut kita apresiasi, namun rasanya masih kurang kalau kepala sekolahnya tidak dicopot,” jelas Retno kepada wartawan.

Retno menambahkan, kepala sekolah mestinya mempertanyakan kegiatan pelantikan peserta ekskul tersebut, karena dilakukan selama delapan hari di luar lingkungan sekolah. Menurutnya, kegiatan itu terlalu lama untuk menggelar acara pelantikan. Selain itu, Retno juga menilai janggal kegiatan itu karena jumlah peserta yang akan dilantik hanya 10 orang. Sementara, senior di lokasi berjumlah 21 orang.

“Lagi-lagi ini peran kepala sekolah yang harusnya menanyakan kegiatan itu kenapa dilakukan selama delapan hari. Mestinya untuk acara seperti itu mestinya tiga hari saja cukup. Kalau saya pasti akan tanyakan rundown acaranya,” ungkap Kepala SMAN 76 Jakarta itu.

Dia menegaskan, kepala sekolah tersebut patut dicopot sebagaimana kasus kekerasan yang menewaskan Renggo Khadafi, siswa kelas V SD Negeri 09 Makassar, Jakarta Timur. Pada waktu itu, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), langsung mencopot jabatan Sri Hartini sebagai kepala sekolah dan dimutasi ke SD Negeri 11 Kebon Pala, Jakarta Timur, menjadi guru biasa.

“Saya yakin, Ahok juga akan segera mencopot Kepala SMAN 3, seperti ketika kasus yang menewaskan Renggo terkuak. Saat itu Jokowi langsung mencopot jabatannya,” tegasnya.

Dia menilai, kegiatan kekerasan di lokasi ekskul tersebut bukan pertama dilakukan antara senior kepada yunior. Pasalnya, kekerasan tak serta-merta terjadi melainkan diduga sudah biasa dilakukan di lingkungan sekolah. Untuk itu, Retno mendesak Dinas Pendidikan DKI Jakarta, segera menyusun konsep antikekerasan di lingkungan sekolah.

“Kasus kekerasan ini sudah sangat mengkhawatirkan, untuk itu perlu segera disusun konsep antikekerasan. Tentunya dengan melibatkan masukan dari sejumlah pihak, agar kasus kekerasan seperti ini tidak terus berulang. Peserta didik harus mendapatkan perlindungan,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Arfiand diduga meninggal dianiaya saat mengikuti pelantikan anggota Sabhawana, klub pencinta alam SMAN 3 Jakarta, ke Gunung Tangkuban Parahu, Jawa Barat, pada 12 Juni 2014. Ia mengembuskan nafas terakhirnya pada Jumat (20/6) siang, di Rumah Sakit MMC Jakarta Selatan. Berdasarkan hasil otopsi luar, ditemukan banyak luka lebam di tubuh Arfiand. Selain itu ia juga mengalami pendarahan dalam di organ paru-paru dan perut.

**Saf/tfk/ht.

Tags: