Akil Mochtar Ngaku Bertemu Atut di Singapura

Kabari teman andaEmailGoogle+0Facebook0Twitter0LinkedIn0Pinterest0

akil m - r atutJakarta-GD| Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar mengakui pertemuan antara dirinya dengan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah di Singapura.

Hal itu diungkapkan Akil saat menjadi saksi untuk Atut di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (12/6/2014). Tapi, kata Akil, pertemuan itu terjadi secara tidak sengaja dan hanya terjadi di depan counter imigrasi bandara saat keduanya sama-sama turun dari pesawat.

“Secara tidak khusus terdakwa juga mengatakan mohon perhatian pilkada di wilayah Banten, saya bilang kita lihat saja nanti,” ujar Akil.

Perbincangan di Singapura itu terjadi pada September 2013. Dikatakan Akil, Atut mengutarakan, adiknya Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan akan mengurus sengketa Pilkada yang ditangani MK.

“Karena tidak menunjuk pilkada mana kan saya katakan tidak ingat apakah perkara sudah disidangkan atau belum. Maka nanti kalaupun ada yang diurus berkaitan dengan pilkada nanti itu tadi ke saudara Wawan,” kata Akil

Namun, Akil gagal melakukan perbincangan dengan Wawan di Singapura lantaran sudah pulang ke Jakarta. Akil pun mengirim pesan singkat pada 25 September 2013 ke Wawan meminta bertemu.

“Di samping belum pernah ketemu, kita bicara soal berkaitan dengan pemilukada di daerah Banten yang pada saat itu berlangsung itu. Kalau nggak salah mulai disidangkan Lebak dan Tangerang tapi Wawan waktu itu ngomongnya minta perhatian minta bantu untuk Serang,’” papar Akil.

Saat datang ke rumah dinas, Akil mengaku hanya berbicara sebentar. “Saya menyampaikan perkara sudah di musyawarah mau diputus, saya kasih tahu perkara Lebak mau diputus kita lihat besok. Tapi Wawan enggak ngerespons sama sekali,” sebut dia.

Perjalanan kisah itu berlanjut ke Susi Tur Handayani. Salah satu kuasa hukum calon bupati/wakil bupati Amir Hamzah-Kasmin yang mengajukan permohonan gugatan. “Yang pertama hubungi Susi. Ada beberapa kali komunikasi minta tolongĀ  dimenangkan perkara Lebak,” kata dia.

Dalam komunikasi dengan Susi itu pula, lontaran permintaan dilayangkan. Mulai dengan permintaan Akil sebesar Rp3 miliar, sampai perkataan Susi yang menggunakan bahasa 1 ekor atau uang senilai Rp1 miliar.

**ugo/ozn.

Tags: