BI : Tiga Masalah Ekonomi Indonesia Saat Ini

Kabari teman andaEmailGoogle+0Facebook0Twitter0LinkedIn0Pinterest0

BIJakarta-GD| Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Yudha Agung, menyebutkan tiga masalah ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia. Tiga masalah ini, kata dia, akan menjadi masalah serius jika tidak segera diatasi.

Yang pertama adalah defisit neraca transaksi berjalan. Yudha mengatakan, masalah ini sudah dihadapi sejak 2011 dan semakin melebar pada 2013. “Kuartal II 2013 defisitnya mencapai 4,4 persen,” kata Yudha saat Media Briefing di Kantor Perwakilan BI di Padang, Ahad, 8 Juni 2014.

Untuk menekan defisit, Bank Indonesia, kata Yudha, telah melakukan upaya dengan menaikkan suku bunga, mengerem impor, dan menjaga stabilitas nilai tukar. Sedangkan pemerintah berupaya dengan kebijakan fiskal, pajak, dan melakukan konversi energi.

Hasilnya, kata Yudha, pada kuartal IV 2013, defisit menurun menjadi 1,98 persen. Namun BI dan pemerintah belum bisa bernafas lega. Karena awal Juni, Badan Pusat Statistik merilis defisit neraca transaksi berjalan kembali melebar. “April disebut defisitnya US$ 2 miliar, ini masih jadi tantangan,” kata Yudha.

Masalah kedua yang sedang dihadapi Indonesia adalah ketidakseimbangan fiskal. Hal ini terjadi karena minimnya pendapatan dari pajak, dibarengi dengan membengkaknya subsidi. “Defisit fiskal jadi melebar,” kata Yudha.

Mengutip pernyataan Menteri Keuangan, Chatib Basri, Yudha mengatakan, jika tidak dilakukan penghematan, maka defisit fiskal akan mencapai 4,69 persen. “Angka yang belum pernah dicapai sejak krisis 1997-1998,” kata dia.

Terakhir adalah masalah dalam sektor riil. Dua sektor yang paling utama adalah defisit energi dan defisit pangan. Jika keduanya tak serius ditangani, maka Indonesia akan tergantung pada luar negeri.

**TAP/TMP.

Tags: