Kadisdik DKI Niat Mundur, Pusing atau Tidak Mampu ?

Kabari teman andaEmailGoogle+0Facebook0Twitter0LinkedIn0Pinterest0

Jakarta, GDlasro| Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Lasro Marbun, dalam waktu dekat akan mengundurkan diri dari jabatannya. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, beberapa waktu lalu kepada wartawan. Bahkan menurut Basuki, Lasro malah pernah meminta untuk dipindahkan ke pos lain.

“Katanya Pak Lasro sudah tidak tahan jadi Kadisdik. Dia mengalami stres berat dan ingin dipindahkan,” kata Basuki, di Balaikota Jakarta.

Keinginan Lasro Marbun yang berniat mundur padahal baru menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan kurang lebih 6 bulan menggantikan posisi Taufik Yudi Mulyanto tersebut, menurut Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama, adalah karena sudah tidak tahan melihat sifat ‘anak buahnya’ yang sulit diatur. Terlebih lagi, sistem di Dinas Pendidikan sudah sejak lama kacau dan jajaran staf di lingkungan Dinas Pendidikan Pemprov DKI dikatakan tidak dapat bekerja sama serta sulit mengikuti ritme kerja Lasro.

“Selama ini, Lasro tidak berani menindak tegas anak buahnya, sehingga dia hanya melakukan pembenahan sesuai dengan kebijakan dan ritme kerjanya sendiri.” papar Ahok.

Menurut keterangan yang berhasil dihimpun, indikasi rencana mundurnya mantan Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana (Kabiro Ortala) Provinsi DKI Jakarta itu dari posisinya sebagai Kepala Dinas Pendidikan Pemporv DKI Jakarta adalah akibat munculnya berbagai permasalahan pelik di Dinas Pendidikan DKI, mulai dari UN SD yang terancam tertunda, tewasnya murid SD dan SMAN 3 karena dibully kakak kelasnya, anggaran Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang tak kunjung cair serta sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang masih amburadul.

Hal rencana mundurnya Lasro Marbun dari posisinya tersebut sontak membuat banyak pihak merasa geram apalagi dengan alasan mengkambinghitamkan Institusi Dinas Pendidikan serta para pegawainya yang disebut tidak bisa diatur. Kritik keras datang dari LSM Barisan Rakyat Anti Korupsi (BARA API).

“Kalau informasi itu benar, maka kami merasa hal ini adalah merupakan preseden yang tidak semestinya terjadi, apalagi sampai ada bahasa menyalahkan bawahan, itu tindakan pengecut seorang pimpinan.” tegas Ungkap, Sekretaris BARA API. “Disini kami tegaskan agar pak Lasro segera saja diganti dan jangan diberikan posisi apapun lagi di Pemprov DKI karena sifat menyalahkan bawahan bukanlah tipikal pimpinan yang layak dicontoh.” tambahnya.

Masih menurut Ungkap, jika memang ada bawahan yang salah, maka tindakan yang semestinya dilakukan oleh Pimpinan adalah menegur bawahan tersebut, bukan malah mengundurkan diri dan membuat alasan menyalahkan bawahan.

“Jadi kalau semua pimpinan di NKRI ini bersifat seperti itu, dipastikan negeri ini akan amburadul.” ujar Ungkap seraya menegaskan agar untuk kemudian hari, jika memang Lasro Marbun mundur dari jabatannya sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta namun masih ditempatkan sebagai Pejabat di lingkup Dinas lainnya di DKI Jakarta, maka BARA API akan melakukan reaksi atas hal itu.

“Kami minta Gubernur DKI tanggap dengan sifat – sifat pemimpin yang seperti ini. Kami tidak akan terima jika beliau masih diberi jabatan dan suatu hari nanti minta mundur lagi sambil menyalahkan bawahannya di Dinas yang dia pimpin tanpa menyebutkan siapa bawahannya yang bermasalah itu, justru kami salut dan mengapresiasi cara – cara Ahok yang jika mendapati bawahannya bermasalah akan langsung menegurnya atau malah melaporkan ke pihak yang berwajib. Begitulah semestinya seorang pemimpin”, tambahnya.

Sementara itu, ditempat terpisah, Sekretaris Independent Commission Against Corruption Indonesia (ICACI), Ziko Fernando.SH.MH, diruang kerjanya mengatakan, rencana Lasro Marbun mundur dari posisinya tersebut sangat disayangkan, mengingat janji – janji yang pernah disampaikan ketika akan menjabat ternyata bertolak belakang dengan alasan kemundurannya.

“Kita masih mengingat dalam pernyataan Lasro ketika diangkat menjadi Kadisdik DKI bahwa sebagai Kepala yang baru, dia akan memaksimalkan anggaran yang sangat besar di Dinas Pendidikan agar lebih tepat sasaran dan akuntabel sehingga bisa meningkatkan mutu pendidikan, dan membuat Dinas Pendidikan semakin berorientasi pada publik, dalam hal ini yaitu murid dan orang tua murid, dimana indikator pelayanan publik yang makin membaik bisa terlihat dari prestasi yang makin meningkat.” papar Ziko. “Jadi alasan pak Lasro bahwa dia stress dan pusing mengurusi Disdik DKI kami rasa bertentangan dengan pernyataannya tersebut.” imbuhnya.**(RED)