Perubahan Iklim di Negara Kepulauan Menjadi Ancaman

Kabari teman andaEmailGoogle+0Facebook0Twitter0LinkedIn0Pinterest0

perubahan iklimBridgetown-GD| Naiknya permukaan air laut yang disebabkan oleh perubahan iklim di negara kepulauan terus menjadi ancaman paling mendesak bagi pembangunan sosial-ekonomi dan lingkungan hidup mereka, dengan kerugian triliunan dolar setiap tahun.

Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) pada Kamis (5/6) mengeluarkan laporan, di Bridgetown untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Dunia, dan menyerukan perubahan cepat kebijakan dan penanaman modal dalam sektor energi terbarukan serta pertumbuhan ekonomi hijau guna menghindari bertambah parahnya dampak itu.

Kerentanan Negara Berkembang Pulau Kecil (SIDS) terhadap perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut yang diperkirakan menjadi empat kali lipat rata-rata global ditambah besar oleh massa tanah mereka yang relatif kecil, konsentrasi penduduk, dan tingginya ketergantungan atas ekosistem pantai untuk memperoleh makanan, kehidupan, keamanan dan perlindungan terhadap peristiwa ekstrem, kata SIDS Foresight Report.

Laporan itu mengatakan banjir yang meningkat dan erosi garis pantai menimbulkan tantangan langsung bagi sebanyak 52 negara pulau kecil di seluruh dunia. Di semua wilayah SIDS, terumbu karang menjadi garis depan bagi penyesuaian sudah sangat terpengaruh oleh naiknya temperatur permukaan air laut, demikian laporan Xinhua, Jumat(6/6).

Kerusakan lapisan terumbu karang global sebanyak 34 juta hektare selama dua dasawarsa akan menelan biaya internasional tak kurang dari 11,9 triliuan dolar AS, dan SIDS sangat terpengaruh oleh kerugian tersebut, kata laporan itu.

Laporan tersebut juga memperingatkan besar dan seringnya banyak ancaman cuaca yang berkaitan dengan iklim akan meningkat saat pemanasan iklim bertambah cepat, terutama di pulau kecil. Itu akan menimbulkan dampak perubahan iklim gabungan dan tak sepadan, yang akan sangat mempengaruhi banyak sektor mulai dari pariwisata, pertanian dan perikanan sampai energi, air bersih, kesehatan dan prasaranan.

Perikanan, misalnya, memainkan peran penting dalam ekonomi, kehidupan dan keamanan pangan di SIDS, yang diperkirakan berjumlah 12 persen dari Produk Domestik Kotor (GDP) di beberapa negara. DI SIDS Pasifik, ikan menjadi andalan bagi 90 persen protein hewani pada makanan masyarakat pantai.

Perubahan diperkirakan akan memiliki dampak negatif pada perikanan, sehingga menimbulkan tantangan jelas untuk memenuhi kebutuhan gizi penduduk yang bertambah, merusak kehidupan dan menghambat upaya untuk mengentaskan orang dari kemiskinan.

Namun, laporan tersebut memperlihatkan SIDS dapat berakhir ke ekonomi hijau yang melibatkan banyak kalangan dan menjamin masa depan makmur yang berkesinambungan dengan memanfaatkan peluang di berbagai bidang seperti energi terbarukan, eksplorasi yang berkelanjutan terhadap sumber daya yang belum dieksploitasi, mengembangkan indikator inklusif yang melampaui GDP.

Laporan itu juga mengatakan perlu untuk mengembangkan indikator pertumbuhan yang memperhitungkan perubahan iklim, kemiskinan, kemerosotan sumber daya alam dan kesehatan manusia, serta indikator baru yang diperlukan untuk memasuki penggunaan luas.

Pada hari itu, UNEP juga meluncurkan satu laporan mengenai studi ekonomi hijau di Barbados, dan menyediakan peta jalan praktis bagi pengambil kebijakan dan pengusaha mengenai pariwisata hijau, pertanian, perikanan, pembangunan dan transportasi di Barbados. Pelajaran tersebut juga dapat diterapkan di SIDS lain.

Hari Lingkungan Hidup Dunia diperingati setiap tahun pada 5 Juni untuk mendorong kesadaran di seluruh dunia dan tindakan bagi lingkungan hidup.

**ant.

Tags: