Renegosiasi Kontrak Gas Tangguh Hasilkan Rp 251 Triliun

Kabari teman andaEmailGoogle+0Facebook0Twitter0LinkedIn0Pinterest0

gas tangguhJakarta-GD| Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan, dengan diselesaikannya proses renegosiasi gas Tangguh dengan China National Offshore Oil Coorporation (CNOOC), maka pendapatan Indonesia dari gas Tangguh bertambah.

Menurutnya, pendapatan dari sebelumnya sebesar USD5,2 miliar menjadi USD20,9 miliar, atau setara dengan Rp251 triliun.

“Jadi hasil renegosiasi ini menghasilkan revenue baru sejumlah Rp251 triliun sampai 2034. Atau rata-rata per tahun Rp12,5 triliun,” ujar dia di Gedung Kementerian ESDM Jakarta, Selasa (1/7/2014).

Jero mengatakan, kesepakatan yang baru ini mulai berlaku 1 Juli 2014. Hal ini sudah disampaikannya kepada Presiden SBY dalam Sidang Kabinet Terbatas.

“Kemarin saya sudah sampaikan ke Presiden dalam Sidang Kabinet Terbatas, yaitu tentang hasil renegosiasi jual beli gas ke Fujian dari Tangguh (Papua). Ini khusus saya sampaikan, karena Presiden juga sudah sampaikan ke media,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, setelah melalui negosiasi yang cukup alot selama 1,5 tahun, Kementerian ESDM berhasil melakukan renegosiasi Kontrak Gas Tangguh untuk Provinsi Fujian, Tiongkok dengan CNOOC.

LNG (liquid natural gas) Tangguh adalah megaproyek kilang LNG untuk menampung gas alam yang berasal dari beberapa blok di sekitar Teluk Bintuni, Papua Barat, seperti Blok Berau, Blok Wiriagar, dan Blok Muturi.

Sementara itu, pembeli di Fujian adalah China National Offshore Oil Corporation (CNOOC). Kontrak gas Tangguh ke Provinsi Fujian ditandatangani pada tahun 2002 pada masa kepemimpinan Presiden Megawati. Saat itu Indonesia berkomitmen memasok gas mulai 2009 sebesar 2,6 juta ton per tahun, selama 20 tahun.

Saat itu disepakati harga jual gas mencapai 2,4 dollar AS per million metric british thermal units (mmbtu) dengan parameter penentuan harga gas ialah patokan batas atas harga minyak mentah 25 dollar AS per barrel.

Selanjutnya pada 2006, Pemerintah Indonesia berhasil melakukan negosiasi ulang kontrak. Dari renegosiasi disepakati, harga gas Fujian naik menjadi 3,35 dollar AS per mmbtu, dengan patokan batas atas harga minyak mentah sebesar 38 dollar AS per barrel.

Renegosiasi harga sejatinya telah diupayakan pemerintah pada 2008 silam. Namun, kala itu, pemerintah Indonesia gagal membujuk CNOOC meskipun harga minyak mentah sudah melambung hingga 100 dollar AS per barrel.

Dengan volume ekspor LNG ke Fujian mencapai 2,6 juta ton per tahun hingga masa kontrak habis 2029 nanti. Sementara itu, harga ekspor gas rata-rata saat ini sudah mencapai 16 dollar AS per mmbtu dan harga penjualan gas domestik saat ini 10 dollar AS per mmbtu. Lantaran tidak menemui kata sepakat dengan CNOOC, pemerintah akhirnya melakukan lobi dengan Pemerintah Tiongkok.

Salah satu klausul yang disepakati adalah harga jual yang naik dari 3,3 dollar AS per MMBtu menjadi 8 dollar AS per MMBtu.

“Minggu lalu Fujian sepakat, harganya akan mengikuti (harga minyak dunia). Jadi harga yang dulu 2,7 dolar per MMBtu lalu berubah 3,3 dollar per mmbtu jadi hari ini mulai 1 Juli sepakat harganya 8 dollar per mmbtu,” ujar Menteri ESDM Jero Wacik usai melakukan rapat terbatas dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor kepresidenan, Senin (30/6/2014).

Menurut Jero, harga jual gas Tangguh akan terus meningkat seiring dengan perkembangan harga minyak dunia. “Kesepakatannya naik terus tahun 2015 jadi 10 dolar per mmbtu, 2016 jadi 12 dolar per mmbtu, 2017 jadi 13,3 dolar per mmbtu. Kontrak kita sampai tahun 2034,” ujar Jero.

**Si/Kps.

Tags: