Satu Dekade Kematian Munir, Mahasiswa Minta Reaksi Jokowi

Kabari teman andaEmailGoogle+0Facebook0Twitter0LinkedIn0Pinterest0

kamisan-satu-dekade-munir

Malang-GD| Puluhan mahasiswa dan pemuda berunjuk rasa memperingati satu dekade kematian pejuang hak asasi manusia Munir Said Thalib di kampus Universitas Brawijaya Jalan Veteran Malang, Jawa Timur, Jumat, 5 September 2014. Sambil mengenakan topeng avatar Munir, mereka menuntut agar dalang pembunuhan Munir segera diadili.

“Sudah sepuluh tahun, tak ada perkembangan. Usut tuntas dalang pembunuh Munir,” kata koordinator aksi, Syahrul Sajidin, Jumat.

Mereka melakukan aksinya di depan kampus Universitas Brawijaya Jalan Veteran Malang. Mereka juga menggelar aksi teatrikal yang menggambarkan kasus kematian Munir tak berujung. “Munir ada dan berlipat ganda,” kata Syahrul.

Perjuangan HAM, katanya, akan terus bergelora. Meski pembunuhan Munir merupakan sebuah perang urat syaraf untuk melemahkan perjuangan penegakan HAM, upaya tersebut tak berhasil. Bahkan, pembunuhan Munir justru memperkuat dan meningkatkan kebersamaan aktivis HAM.

Peringatan kematian Munir, kata Syahrul, juga menjadi peringatan masih banyak pelanggaran HAM masa lalu yang sampai saat ini tak terungkap. Namun, sampai saat ini tak selesai dan belum tercipta keadilan bagi para korban. Untuk itu, mereka menuntut Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pasangan presiden dan wakil presiden terpilih untuk serius menuntaskan kasus pelanggaran HAM.

“Usut dan adili kasus Munir dan HAM,” kata Syahrul. Ia masih percaya aparat penegak hukum untuk menuntaskan perkara. Meski pelaku lapangan Pollycarpus terbukti bersalah dan dihukum namun pelaku utamanya tak terungkap sampai sekarang. Apalagi, Pollycarpus telah mendapatkan remisi.

Sebelumnya, Wakil Ketua Tim Transisi Joko Widodo-Jusuf Kalla, Andi Widjajanto, mengatakan Jokowi akan segera menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tentang hak asasi manusia. Tujuannya untuk membentuk pengadilan HAM ad hoc.
**EKO WIDIANTO

Tags: