Solu Bolon Simatupang, Napak Tilas Menghormati Leluhur

Kabari teman andaEmailGoogle+0Facebook39Twitter1LinkedIn0Pinterest0

SOLU BOLON

Tapanuli Utara-GD|  Dalam ribuan tahun tradisi Tiongkok, menghormati leluhur sudah menyatu dengan keyakinan masyarakat modern. Dalam Islam, ada tahlilan yang berlanjut menjadi haul. Maknanya sama, menghormati lehuhur atau tokoh tertentu.

Di Nagano (Jepang), di kuil Suwa-Taisha, setiap April selalu diselenggarakan festival tradisional Ontohsai, mementaskan kisah Abraham yang hendak memotong korban (anaknya sendiri). Pementasan ini adalah untuk menghormati Abraham, sang lehuhur. The “Ontohsai” festival, held since ancient days, is judged to be the most important festival of “Suwa-Taisha”.

“Orang yang masih hidup menghormati leluhur. Tak bisa lupa, karena leluhur yang membuka kehidupan,” begitulah esensi Cheng Beng. Walau, jasa lehuhur (orangtua) tetap tak akan tertebus dengan penghormatan macam apa pun.

Keturunan Raja Simatupang (Togatorop, Sianturi dan Siburian) salah satu Marga dari Suku Batak, kini berusaha menghormati lehuhur dengan mengadakan napak tilas. Berbagai prosesi unik digelar. Agaknya, sungguh suatu fenomena baru, karena ada penafsiran ulang.

Berita pembuatan ‘Solu Bolon’ (perahu besar) milik pomparan Raja Simatupang dalam beberapa minggu terakhir menjadi kabar yang menggemparkan di Kabupaten Tapanuli Utara dan tak juga surut hingga saat ini, bahkan semakin tersebar kemana-mana.

Dua Solu Bolon (Perahu Besar) milik pomparan Raja Simatupang, pengerjaannya hampir satu tahun. Rencananya, proses pemindahannya dilakukan sepanjang 100 kilometer dan diangkat 333 orang Pomparan Raja Simatupang dari Dusun Tordolok Nauli, Sarulla Dolok, Kecamatan Pahae Jae, ke Danau Toba di Kecamatan Muara, Tapanuli Utara.

Jusman Sianturi salah seorang Pomparan Raja Simatupang, mengatakan, dua unit Solu Bolon tersebut, diangkat dari lokasi pembuatannya dari hutan, dengan kondisi jalan yang sangat curam dan terjal di Dusun Tordolok Nauli, Sarulla Dolok, Pahae Jae. Perahu dibuat di hutan antara 10 sampai 14 km dari jalan raya.

“Latar belakang pembuatan Solu Bolon ini, merupakan hasil Mubes Raja Simatupang, yang ingin menggali situs-situs budaya Raja Simatupang, sekaligus untuk mengingat nenek-moyangnya yang hijrah dari Kecamatan Muara ke Kecamatan Pahae Jae, Sarulla. Selain itu juga, bertujuan mempersatukan pomparan Raja Simatupang,” kata Jusman Sianturi, Selasa (17/12), di Desa Tornauli, Sarulla.

Sebenarnya, proses pengerjaan Solu Bolon, jelas Jusman, direncanakan tahun 2009 lalu. Namun, ada kendala dan diputuskanlah pengerjaannya tanggal 7 Januari 2013.

“Kami membuat 7 perahu (solu bolon) di Pahae, 6 di antaranya akan dibawa ke Muara, ” ungkap Jusman Sianturi (Amani Arta Pesta Ria), Ketua Pelaksana.

“Semula, direncanakan Solu Bolon itu akan tiba tanggal 8 Desember lalu di Muara. Namun karena proses pengangkatannya sangat sulit, akibat situasi alam dan juga melihat situasi pomparan Raja Simatupang yang terlihat lelah, maka panitia belum memastikan kapan sampai di Muara,” kata Jusman.

Informasi yang dihimpun dari masyarakat setempat mengatakan, bahwa dua unit Solu Bolon itu mempunyai nilai magis, demikian juga proses pemindahannya dari lokasi yang berada di dalam hutan perbukitan Dusun Sarulla. Solu Bolon harus ditandu sampai ke Kecamatan Muara dan tidak boleh menggunakan sarana transportasi lainnya.

Demikian juga pembuatannya harus memakai kayu jenis Meranti yang ada di Dusun Sarulla dan berdasarkan informasi beredar, pohon kayu Meranti yang diperuntukkan untuk Solu Bolon, ditunjukkan kepada pomparan (keturunan) Raja Simatupang melalui mimpi.

Seperti perahu jaman dahulu  Perahu Simatupang terbuat dari kayu utuh. Spesifikasi Solu Bolon dua unit yang besar dengan panjang 21 meter, lebar 110 cm serta tinggi 70 cm. Dan ada 6 unit solu kecil yang panjangnya 5 meter, lebar 80 cm serta tinggi 40 cm. Untuk keseluruhan bahan yang dihabiskan merakit Solu Bolon tersebut, menghabiskan tujuh batang kayu Meranti.

Tekad kuat keturunan Raja Simatupang, menggali dan melestarikan warisan leluhur tidak hanya dalam pembuatan Solo Bolon saja. Di Sitabungan (Parranginan) yang kini menjadi Kabupaten Humbang Hasundutan, dibangun rumah doa, panjang 21 m, lebar 18 dan tinggi 21 m. Tahun 2010 silam, sudah diresmikan tugu.

Untuk peresmian puncak 21-22-23 Desember 2013, telah disiapkan 3.333 ulos sampe-sampe dan parorot, 630 ulos (kain) tali-tali, ditenun 77 orang keturunan Simatupang. Di sekitar rumah doa, ditanam 7.777 pohon buah. Juga 3.333 salapa (tempat penyimpanan sesuatu), dan Kami sungguh mengharapkan kehadiran seluruh keturunan Simatupang dari seluruh penjuru dunia,” kata Jusman, telepon 0813 7604 6540.

Sesuai tradisi Batak, jenis ulos adalah simbol khusus. Parorot misalnya, simbol penjaga, kain yang digunakan menggendong bayi. Memberi ulos parorot, adalah simbolisasi doa agar ada yang melindungi dan penerima ulos senantiasa diiringi Tuhan Maha Kuasa.

Sekedar menyegarkan ingatan, nenek-moyang orang Batak adalah Si Raja Batak, diyakini diciptakan langsung oleh Tuhan (Mula Jadi Na Bolon). Si Raja Batak, punya dua anak, Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon.

Guru Tatea Bulan mempunyai 5 putra, Raja Biakbiak (Raja Uti), Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Silau Raja. Saribu Raja punya 2 anak, Raja Lontung (dari istri Siboru Pareme), dan Raja Borbor (dari isteri Nai Mangiring Laut).

Raja Lontung mempunyai 7 orang putra: Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang dan Siregar. Simatupang punya 3 putra, Togatorop, Sianturi dan Siburian. Generasi Simatupang sekarang ini, antara generasi 15 sampai 19.

Meski Simatupang merupakan marga persatuan (Togatorop, Sianturi, Siburian), tak sedikit yang menggunakan marga Simatupang. Kita kenal pahlawan nasional TB Simatupang, sastrawan atau eksistensialis Iwan Simatupang, kelompok penyanyi Simatupang Sister dan masih banyak lagi.

Keseluruhan prosesi acara yang di gelar keturunan Raja Simatupang, adalah upaya melawan lupa leluhur, melawan lupa identitas kultural. Jumlah dengan angka unik, simbolisasi tradisi nenek-moyang, di mana angka 3 menjadi angka sakral, setara dengan angka 9 di Jawa, angka 8 di Tiongkok.

Semoga upaya keturunan Raja Simatupang menghormati lehuhur, memperjelas indentitas kultural, menjadi orientasi baru. Melawan lupa.** Indra.

Dihimpun dari Berbagai Sumber.

Tags: