Warga di Perbatasan: Beli Sembako di RI Mahal, Beli di Malaysia Disita

Kabari teman andaEmailGoogle+0Facebook0Twitter0LinkedIn0Pinterest0

entikongJakarta-GD|Entikong – Tidak mudah bagi warga Indonesia untuk hidup di wilayah perbatasan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, diperlukan perjuangan yang tidak gampang.

Seperti warga Entikong, Kabupaten Sanggau, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya yang jauh dari kota, membuat barang-barang kebutuhan sehari-hari langka.

Perjalanan darat dari Entikong menuju kota terdekat yaitu Pontianak, memakan waktu 6-8 jam. Biaya perjalanan juga cukup mahal sehingga barang yang dibeli dari Pontianak, akan sangat mahal jika dijual di kawasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini.

“Karena itu kami beli dari Malaysia,” kata salah seorang warga, Ito di Entikong, Kalimantan Barat, Kamis (27/11/2014).

Ito mengatakan, selisih barang yang dibelinya dari Pontianak dan dari Malaysia cukup lumayan. Seperti minyak goreng, jika dibeli dari Pontianak harganya sekitar Rp 16.000, bahkan kadang-kadang mencapai Rp 18.000. Sementara jika membeli di Malaysia hanya berkisar Rp 13.000.

“Perjalanan Entikong-Pontianak itu biayanya Rp 200 ribu. Jadi untuk pulang pergi Rp 400 ribu. Harga tabung gas jadi berapa kalau beli di Pontianak,” ujarnya.

Namun di sisi lain, belanja mereka ke Malaysia juga dibatasi. Setiap warga hanya diperbolehkan membeli barang dari Malaysia maksimal sebanyak 600 ringgit selama sebulan. Belanja mereka dicatat di kantor bea cukai.Next

“600 ringgit itu aturan dari zaman tahun 1970 saat harga rokok sebungkus masih Rp 170. Masak mau terus disamakan,” keluh Warga lain, Norbertus Pamungkas.

Jika belanja lebih dari itu, warga akan berurusan dengan bea cukai. Barang yang sudah dibeli akan ditahan di bea cukai dan tidak diberikan kepada pemilik barang.

“Sudah begitu, kadang-kadang yang lolos di perdagangan, nggak lolos di kepolisian. Ini mau bagaimana,” tambah Ketua Adat Dayak untuk wilayah Entikong, Damianus Asiagidot.

Mereka berharap pemerintah memberikan kebijakan yang memudahkan masyarakat. Jika pemerintah belum dapat menyediakan kebutuhan sembako, warga meminta agar belanja di Malaysia lebih dipermudah.

“Kebutuhan kita 90% belinya di Malaysia. Kita sangat bergantung pada mereka. Seumur hidup saya belum pernah lihat gula dari Jawa di Entikong. Semua dari Malaysia,” tutur Damianus.