Warga Kampung Kandang Minta Pembayaran Ganti-Rugi Dipercepat

Kabari teman andaEmailGoogle+0Facebook0Twitter0LinkedIn0Pinterest0

kampung kandang

Jakarta-GD| Warga Kampung Kandang, Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, meminta proses pembayaran pengantian bangunan mereka dipercepat, Sebab kondisi rumah warga rentan ambruk dan kondisi lapuknya jalan kayu menuju pemukiman yang berdiri di atas rawa.

Proses pengantian bangunan yang saat ini hanya melayani sepuluh warga per hari dirasa terlalu lambat. Hal itu membuat warga semakin hidup dalam suasana ketidakpastian karena bisa saja sewaktu-waktu rumah mereka ambruk.

Feri Mangunsong (42), salah satu warga yang sudah tinggal selama 13 tahun di RT9 RW13 Kampung Kandang mengatakan, ia sangat resah selama menunggu nomor antrean pembayaran oleh pengembang.

“Saya minta pengembang memikirkan prosesnya yang dilihat, kalau saya sebelum dapat antrean rumah saya ambruk, nyawa saya siapa yang ganti?” ujar Feri kepada wartawan Rabu (18/6) pagi.

Feri mengungkapkan, dengan sistem pembayaran saat ini yang mengurutkan pembayaran dari warga yang terkecil dahulu lalu kemudian berlanjut ke warga yang pengantiannya lebih besar adalah cara sangat merugikan masyarakat kampung kandang.

“Kita minta pengantian dipercepat, dalam proses percepatan itu jangan se-enaknya pengembang, kalau mau ikuti dari nomor ya harus urut, kalau acak seperti sekarang ini kan berasa semaunya dia (pengembang), sekalian aja dia bakar rumah kami,” ujar Feri.

Dia menjelaskan, seharusnya pengembang jika ingin menggusur seharusnya sudah mempersiapkan dana untuk menggusur jadi proses pergantian tidak lambat seperti itu.

Hal serupa dikatakan Jubaedah (49). Warga yang sehari-hari berjualan minuman dan rokok di bagian depan rumahnya itu mengaku saat ini belum mendapatkan kupon antrean dari pengurus RT setempat.

Suaminya menolak mengambil antrean karena belum cocok dengan harga penggantian. “Janjinya pengembang mengganti Rp 650.000 per meter persegi, tapi ini ditawarinnya cuma Rp 550.000 per meter persegi untuk bangunan permanen,” ujar Edah.

Edah yang memiliki luas bangunan 200 m2 mengungkapkan dengan uang Rp 130 juta yang akan ia dapatkan nanti bila pengembang menepati janji dengan harga awal merasa dengan uang sekecil itu tidak bisa untuk mendapatkan rumah pengganti di Jakarta.

“Ganti segitu kecil, seumur-umur bapaknya dari pertama kerja, larinya ke sini semua, gak ada apa-apa di kampung kita enggak,” kata Edah yang suaminya bekerja sebagai satpam di Fatmawati.

Edah mengaku saat ini ia masih bingung akan pindah ke mana karena sangat sulit untuk mencari rumah kontrakan dengan harga yang masih bisa dijangkau oleh keluarganya.

Menanggapi tuntutan dan permasalahan warga tersebut, Johan Sunarto selaku perwakilan dari PT Bumi Boga Persada (pengembang) mengatakan bahwa sistem yang berjalan saat ini mengutamakan proses kehati-hatian dan ketelitian dalam proses pembayaran bangunan warga.

“Prinsipnya proses sedang berjalan sesuai dengan jadwal dan kondisi lapangan, kita akan liat kedepannya setiap hari pasti ada pembayaran dan setiap hari pembongkaran pasti ada, dan itu pasti dengan kerelaan dari warga sendiri untuk membongkar bangunan mereka,” ujar Johan.
**crb/ys/sp.

Tags: