wikana dan Soal Pemuda

Kabari teman andaEmailGoogle+0Facebook0Twitter0LinkedIn0Pinterest0

wikanaMenteng 31, di Jakarta, di tahun 1945, beberapa pemuda berkumpul di bawah pohon jarak. Mereka sedang mendiskusikan soal situasi internasional saat itu. Jepang, Jerman, Italia ingin tampil menguasai dunia. Industrialisasi di negara-negara tersebut di dorong untuk satu kalimat: merengkuh kejayaan dunia.

Posisi Indonesia terjepit. Belanda dua kali mengganti wajahnya dari kolonialisme menjadi imperialisme. Sesungguhnya tidak ada beda, tetap sama menindas. Jepang masuk ke Indonesia dengan slogan bersahabat: Nippon Cahaya Asia, Pelindung Asia, Pemimpin Asia. Tapi sama saja, penduduk pribumi tetap jadi budak di negerinya sendiri.

Hasil diskusi pemuda mengarah ke kata sepakat. “Sekarang, Bung! Malam ini juga kita kobarkan revolusi,” kata Chaerul Saleh. Mereka pergi ke rumah Sukarno. “Kalau Bung tidak mau mengumumkan proklamasi, besok akan terjadi pertumpahan darah,” sambar Wikana. Dengan gaya konservatif, Sukarno menyahut: “Ini batang leherku. Seret saya ke pojok itu dan potong malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari!”

Para pemuda pulang kembali ke Menteng 31 dengan gelora dan amarah yang dipendam dalam hati. Wikana pulang membonceng Aidit. Keesokan harinya, mereka sepakat untuk membawa Sukarno dan Hatta pergi meninggalkan Jakarta untuk menyamakan frekuensi untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Adalah Wikana, pemuda asal Sumedang, Jawa Barat, yang dalam narasi sejarah kita namanya terpinggirkan dari bagian penting Revolusi Agustus 1945. Bersama Aidit, Wikana membentuk pusat latihan pemuda yang mereka beri nama Asrama Kemerdekaan. Kegiataannya mengadakan kursus-kursus politik pemuda. Pengajarnya ialah Sukarno, Hatta, Amir Syarifudin dan Ki Hajar Dewantara.

Sesungguhnya peran Wikana sangat vital. Dialah yang menghimpun kekuatan pemuda, mengorganisir pemuda, dan menjadikannya organik, agar dapat memobilisir rakyat pergi menghadiri rapat-rapat akbar. Tanpanya, Sukarno bukanlah apa-apa. Bisa jadi pidatonya tak ubahnya seperti teriakan-teriakan orang kesakitan tanpa pertolongan. Kharisma Sukarno pun hanya jadi lukisan pajangan dinding tanpa ribuan massa di depan podium.

Wikana dan para pemudalah yang mengajak rakyat agar berpartisipasi. Jika situasi hening karna Sukarno telat hadir dalam rapat akbar, para pemuda ini yang memimpin dan memandu nyanyian-nyanyian agar semangat rakyat tetap terjaga. Dengan begitu usaha mereka seperti ini tidak lebih hanya mempunyai tujuan: agar Revolusi Agustus 1945 tidak hanya menjadi milik elit.

Gagasan Pemuda Wikana

Wikana adalah wakil semangat pemuda. Kegiatannya adalah gambaran pemuda Indonesia pada periode 1920-an. Gambaran akan perjuangan terhadap penindasan dari jiwa-jiwa dan pikiran yang merdeka.

Proklamasi telah dibacakan. Kabinet Sjahrir dan Amir memintanya menjadi Menteri Urusan Pemuda dari tahun 1946-1948. Wikana juga tetap aktif dan setia di barisan massa. Dia memilih PKI sebagai ruang dalam mengorganisir dan mengorganisasi rakyat. Wikana yakin, proklamasi hanyalah pintu, sebuah jalan menciptakan kemerdekaan, keadilan dan kesejahteraan, yang masih panjang. Dan itu harus ditempuh jika tetap dalam barisan massa.

Biarpun begitu, Wikana tetap mau mencurahkan pikiran-pikiran teoritisnya. Analisa-analisanya tertuang beberapa kali dalam jurnal teori marxisme-leninisme, Bintang Merah. Dalam jurnal milik PKI ini Wikana menulis Organisasi Massa Pemuda, pada 1950. Wikana mempermasalahkan hubungan antara partai dan organisasi massa pemuda.

Dari tulisannya terlihat betapa sulit memahami istilah “berorganisasi dan berpolitik sebagai partai komunis”. Dia juga mengeritik soal peranan hegemoni dari partai komunis atas gagasan konsep Aidit. Dimana ada keingingan konsepsi partai sebagai organisator gerakan massa dan sebagai wadah untuk mengeneralisasi dan menteorisasi pengalaman politik gerakan itu.

Kepada PKI, Wikana mempertanyakan soal batas pemuda. Dia mempertentangkan konsepsi partai sebagai partai kader berbasis massa sekaligus menjadi partai massa berbasis kader. Tentang organisasi pemuda, Wikana mengajukan konsepsi agar organisasi semacam itu bisa mempunyai peraturan yang sama dengan partai. Wikana berpendapat, “perbedaan antara partai dan organisasi massa pemuda bukan harus diadakan dengan jalan membedakan azas, tujuan dan menyelundupkan tujuan strategi perjuagan”.

Dia mengeritik partai yang berpendapat bahwa jika orang-orang sudah berumur 25-30 tahun tidak dibolehkan menjadi anggota organisasi pemuda. Jika banyak anggotanya lebih dari itu, organisasi itu akan kehilangan sifat kepemudaannya. Dan akan menjadi partai kedua.

Dengan tegas Wikana menyangkal, bahwa soal usia hanyalah dalih, yang terpenting adalah keinginan berjuang. Menurutnya, “jika ia bisa tetap dalam organisasi itu, meskipun tidak ada hasrat untuk bekerja di lapangan lain, setidak-tidaknya lebih berfaedah daripada jika ia tidak berbuat apa-apa. Kita rasa, tidak menguntungkan, bahwa golongan simpatiserenden dijauhkan dari perjuangan aktif di bagian manapun juga dalam perjuangan kita.”

Biar bagaimanapun, tujuan dari organisasi massa adalah pendidikan revolusioner atas anggota-anggota organisasi, dimana yang terbaik akan ditingkatkan menjadi anggota-anggota partai. Wikana menggarisbawahi, jika orang masih mesti dididik, maka tempatnya lebih tepat di pergerakan pemuda daripada di partai atau organisasi massa lainnya.

Melalui PKI, Wikana menuntut otonomi organisasi pemuda dari organisasi partai dan kemungkinan bagi organisasi massa pemuda menjadi semacam partai simpatiserenden sesuai dengan rumusan “partai massa”. Berdampingan atau bersaing secara bersahabat dengan PKI dengan kedudukan sebagai partai pelopor.

PKI kemudian menjawabnya dengan berpendapat bahwa gerakan pemuda tidak mungkin menjadi kutub berdaya tarik sebagaimana halnya partai itu sendiri, tetapi adalah partai yang harus mewujudkan semangat pemuda, semangat Revolusi Agustus. Suatu organisasi pemuda yang menggunakan azas dan tujuan yang serupa dengan yang digunakan oleh partai komunis, tidak lagi merupakan organisasi massa yang harus lebih umum dan lebih luas dalam tujuannya dan azasnya, dan lebih luwes dalam organisasi dan geraknya, dibandingkan dengan pratai pelopor. Ini supaya bisa berperan sebagai perantara rakyat biasa yang belum terorganisasi sampai ke dalam partai. Terlebih jika kepemudaan tidak ditentukan oleh usia, maka organisasi semacam ini bukan saja menjadi suatu partai politik untuk pemuda, melainkan sudah menjadi partai politik baru yang menyaingi partai komunis. Ini berarti menyangsikan, bahkan menolak, fungsi organisator massa dan fungsi pemusatan perjuangan massa yang dilakukan oleh partai pelopor.

Sampai kemudian perdebatan ini harus diakhiri dengan teror brutal setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Wikana hilang setelah segerombolan tentara tak dikenal datang ke rumahnya di Jalan Dempo No. 7 A, Matraman, Jakarta Pusat. Sampai hari ini Wikana tak pernah pulang. Dan gagasannya mengenai pemuda tidak pernah mendapat tempat bagi penguasa negara pasca insiden 1965. Rezim Suharto justru menciptakan sebuah lembaga baru bernama: Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.

Wikana dan Setelahnya

Melalui Suharto, kata pemuda telah dilucuti, di delegitimasi atas sejarahnya. Sampai kemudian dibentuk wadah bernama Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) sebagai alat kontrol terhadap aspirasi pemuda. Sehingga wadah itu tidak lebih hanya menjadi bagian dari kekuasaan yang di awal kedudukannya sudah memperkosa peri-kemanusiaan.

Penyingkiran Wikana pada tahun 1965 sebagai representasi pemuda yang menolak pembedaan dengan rakyat. Bersamaan dengan itu justru menghasilkan terminologi ‘mahasiswa’. Dimana sejarah awalnya, pada 1966 ,orientasi atas aspirasi politik mahasiswa ini sudah dikanalkan pada pergantian kekuasaan.

Masa depan Indonesia tidak lagi dengan semangat dan gerakan “pemuda”. Suharto menggantinya dengan “mahasiswa”, yang kemudian memisahkan diri dengan rakyat. Mahasiswa muncul sebagai kelas sosial yang berbeda dan sulit diidentifikasi jika tidak memakai kaca mata kekuasaan.

Wikana dan zamannya menaruh kata ‘pemuda’ bersanding dengan ‘rakyat’. Dia tidak berada di depan yang memposisikan diri sebagai pengembala yang menginstrusikan rakyat dengan sejumlah agendanya. Juga tidak ada di belakang rakyat dimana pertanggung-jawabannya sulit untuk dilacak jika rakyat berjalan dengan arah yang salah.

Pemuda, menurut Wikana, adalah berjuang bersama rakyat, menyusun pergerakan berdasar apa yang diketahui oleh rakyat, serta merumuskan perjuangan atas dasar apa yang mereka miliki. Sehingga perjuangan pemuda adalah perjuangan rakyat dan sejarah gerakan pemuda adalah sejarah gerakan rakyat.

Sulit untuk menuntut Wikana kembali. Mungkin yang bisa dilakukan ialah melihat kembali gagasannya.

Satriono Priyo Utomo, peneliti lepas di Indonesian Corruption Watch (ICW), Sekretaris Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) kota Jakarta, dan sekretaris redaksi Unit Penerbitan Kampus ‘Transformasi’.

Sumber Pustaka:

Wikana, 1950. Organisasi Massa Pemuda, Bintang Merah 7

Sumber Artikel: berdikarionline

Rate this article!
wikana dan Soal Pemuda,0 / 5 ( 0votes )